WELCOME TO MY GALLERY

Menjalankan METODE DISKUSI (DISCUSSION METHODS)

MENGENAL DAN MENERAPKANMETODE DISKUSI (DISCUSSION METHODS)

Kegiatan diskusi dapat dilakukan dalam kelompok kecil (3-7 siswa), kelompok sedang (8-12 siswa), dan kelompok besar (13-40 siswa) ataupun diskusi kelas.
Karakteristik Metode Diskusi:
  • Bahan pelajaran dikemukakan dengan topik permasalahan yang akan merangsang siswa menyelesakan permasalahan tersebut
  • Membentuk kelompok yang terdiri dari beberapa orang siswa untuk menyelesaikan permasalahan
  • Kelancaran diskusi ditentukan oleh moderator
  • Semua siswa sebagai anggota kelompok dalam diskusi mengarah pada pendapat/kesimpulan bersama
  • Guru sebagai pembimbing, fasilisator, dan motivator.
Kemampuan yang harus dimiliki oleh guru dan siswa untuk mengoptimalkan metode diskusi 
1. Kemampuan yang harus dimiliki guru:
  • Mampu merumuskan permasalahan yang akan diselesaikan oleh siswa
  • Mampu membimbing siswa untuk merumuskan/mengidentifikasi permasalahan serta menarik kesimpulan
  • Mampu membagi siswa ke dalam kelompok sesuai dengan kebutuhan permasalahan dan pengembangan kemampuan siswa
  • Mampu mengelola pembelajaran dengan baik.
2. Kemampuan yang harus dimiliki siswa:
  • Memiliki motivasi, perhatian, dan minat dalam berdiskusi kelompok
  • Mampu mengikuti dan melaksanakan diskusi dengan baik
  • Mampu menerapkan belajar bersama teman sekelompok
  • Mampu memunculkan ide dan pendapat masing-masing
  • Mampu memahami dan menghargai pendapat orang lain.
Prosedur Metode diskusi
Tahap persiapan
-Memberitahukan tujuan/kompetensi yang akan dicapai setelah proses diskusi berakhir
-Membagi siswa ke dalam beberapa kelompok sesuai dengan kebutuhan
-Menjelaskan tahapan kegiatan yang akan dilalui siswa.
Kegiatan inti
-Merumuskan masalah berdasarkan topik pembahasan dan tujuan pembelajaran
-Mengidentifikasi masalah/sub masalah berdasarkan permasalahan yang telah dirumuskan
-Analisis masalah berdasarkan sub masalah
-Menyusun laporan oleh masing-masing kelompok
-Presentasi hasil diskusi kelompok melalui diskusi kelas.
Kegiatan Penutup
-Melaksanakan penguatan pemahaman konsep dan prinsip yang diperoleh dari keseluruhan pendapat siswa
-Menyimpulkan hasil diskusi berdasarkan rumusan masalah/submasalah
Keunggulan Metode Diskusi
  • Saling bertukar pikiran antar siswa sehingga memperluas wawasannya
  • Merangsang kreativitas siswa untuk memunculkan ide/pendapat dalam memecahkan suatu masalah
  • Menumbuhkan rasa tanggung jawab
  • Menigkatkan kemampuan berkomunikasi
  • Mengembangkan sikap menghargai pendapat orang lain
  • Memberikan kesempatan belajar menjadi lebih aktif
Kelemahan Metode Diskusi
  • Relatif memerlukan waktu yang cukup banyak
  • Apabila siswa tidak memahami konsep dasar permasalahan maka diskusi menjadi tidak efektif
  • Pada umumnya diskusi akan dikuasai oleh siswa yang suka berbicara atau ingin menonjolkan diri
  • Tidak semua topik dapat dijadikan bahan diskusi, hanya hal-hal yang bersifat problematis saja yang dapat didiskusikan
  • Tidak semua guru memahami cara siswa melakukan diskusi

MENGENAL DAN MENERAPKANMETODE DISKUSI (DISCUSSION METHODS)

Kegiatan diskusi dapat dilakukan dalam kelompok kecil (3-7 siswa), kelompok sedang (8-12 siswa), dan kelompok besar (13-40 siswa) ataupun diskusi kelas.
Karakteristik Metode Diskusi:
  • Bahan pelajaran dikemukakan dengan topik permasalahan yang akan merangsang siswa menyelesakan permasalahan tersebut
  • Membentuk kelompok yang terdiri dari beberapa orang siswa untuk menyelesaikan permasalahan
  • Kelancaran diskusi ditentukan oleh moderator
  • Semua siswa sebagai anggota kelompok dalam diskusi mengarah pada pendapat/kesimpulan bersama
  • Guru sebagai pembimbing, fasilisator, dan motivator.
Kemampuan yang harus dimiliki oleh guru dan siswa untuk mengoptimalkan metode diskusi 
1. Kemampuan yang harus dimiliki guru:
  • Mampu merumuskan permasalahan yang akan diselesaikan oleh siswa
  • Mampu membimbing siswa untuk merumuskan/mengidentifikasi permasalahan serta menarik kesimpulan
  • Mampu membagi siswa ke dalam kelompok sesuai dengan kebutuhan permasalahan dan pengembangan kemampuan siswa
  • Mampu mengelola pembelajaran dengan baik.
2. Kemampuan yang harus dimiliki siswa:
  • Memiliki motivasi, perhatian, dan minat dalam berdiskusi kelompok
  • Mampu mengikuti dan melaksanakan diskusi dengan baik
  • Mampu menerapkan belajar bersama teman sekelompok
  • Mampu memunculkan ide dan pendapat masing-masing
  • Mampu memahami dan menghargai pendapat orang lain.
Prosedur Metode diskusi
Tahap persiapan
-Memberitahukan tujuan/kompetensi yang akan dicapai setelah proses diskusi berakhir
-Membagi siswa ke dalam beberapa kelompok sesuai dengan kebutuhan
-Menjelaskan tahapan kegiatan yang akan dilalui siswa.
Kegiatan inti
-Merumuskan masalah berdasarkan topik pembahasan dan tujuan pembelajaran
-Mengidentifikasi masalah/sub masalah berdasarkan permasalahan yang telah dirumuskan
-Analisis masalah berdasarkan sub masalah
-Menyusun laporan oleh masing-masing kelompok
-Presentasi hasil diskusi kelompok melalui diskusi kelas.
Kegiatan Penutup
-Melaksanakan penguatan pemahaman konsep dan prinsip yang diperoleh dari keseluruhan pendapat siswa
-Menyimpulkan hasil diskusi berdasarkan rumusan masalah/submasalah
Keunggulan Metode Diskusi
  • Saling bertukar pikiran antar siswa sehingga memperluas wawasannya
  • Merangsang kreativitas siswa untuk memunculkan ide/pendapat dalam memecahkan suatu masalah
  • Menumbuhkan rasa tanggung jawab
  • Menigkatkan kemampuan berkomunikasi
  • Mengembangkan sikap menghargai pendapat orang lain
  • Memberikan kesempatan belajar menjadi lebih aktif
Kelemahan Metode Diskusi
  • Relatif memerlukan waktu yang cukup banyak
  • Apabila siswa tidak memahami konsep dasar permasalahan maka diskusi menjadi tidak efektif
  • Pada umumnya diskusi akan dikuasai oleh siswa yang suka berbicara atau ingin menonjolkan diri
  • Tidak semua topik dapat dijadikan bahan diskusi, hanya hal-hal yang bersifat problematis saja yang dapat didiskusikan
  • Tidak semua guru memahami cara siswa melakukan diskusi
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

Menerapkan METODE DEMONSTRASI (DEMONSTRATION METHODS)

MENGENAL DAN MENERAPKANMETODE DEMONSTRASI (DEMONSTRATION METHODS)

Mengapa demonstrasi perlu dilakukan?
  • Mengonkretkan suatu konsep yang abstrak
  • Melatih cara menggunakan prosedur secara tepat
  • Membuktikan bahwa alat dan prosedur tersebut dapat digunakan.
Karakteristik Metode Demonstrasi:
  • Membelajarkan siswa dalam penguasaan prosedur tertentu
  • Situasi yang digunakan adalah objek yang sebenarnya
  • Selain guru, nara sumber lain juga dapat dijadikan model.
Langkah-langkah metode demonstrasi:
  • Merumuskan tujuan yang akan dicapai siswa setelah proses demonstrasi berakhir
  • Mempersiapkan peralatan yang akan digunakan dalam demonstrasi
  • Mempersiapkan garis besar langkah-langkah demonstrasi yang akan dilakukan
  • Menjelaskan kepada siswa tentang topik yang akan didemonstrasikan
  • Melakukan demonstrasi yang akan dilihat dan ditirukan siswa
  • Penguatan melalui diskusi, tanya jawab, dan latihan
  • Kesimpulan dari demonstrasi yang telah dilakukan.
Kemampuan guru dan siswa yang harus dimiliki agar demonstrasi berjalan dengan baik.
Kemampuan guru:
  • Menguasai materi, langkah-langkah, dan proses pelaksanaan demonstrasi
  • Mampu dan menguasai kelas secara menyeluruh
  • Mampu menggunakan peralatan demonstrasi
  • Mampu melakukan penilaian proses
Kemampuan siswa:
  • Tertarik/termotivasi dengan topik demonstrasi
  • Memahami tujuan demonstrasi
  • Mampu mengamati proses demonstrasi.
Keunggulan metode demonstrasi:
  • Dapat memusatkan perhatian siswa
  • Siswa dapat memahami materi pelajaran sesuai dengan objek yang sebenarnya
  • Mengembangkan rasa ingin tahu siswa
  • Dapat melakukan pekerjaan berdasarkan proses yang sistematis
  • Masalah atau pertanyaan pada diri siswa dapat terjawab melalui pengamatan langsung saat proses demonstrasi dilaksanakan.
Kelemahan metode demonstrasi:
  • Kurang sesuai untuk jumlah siswa yang terlalu banyak
  • Hanya menimbulkan cara berfikir konkret
  • Tidak semua hal dapat didemonstrasikan di dalam kelas
  • Terkadang terjadi, proses yang didemonstrasikan di dalam kelas berlainan dengan situasi yang sebenarnya di luar kelas
  • Memerlukan waktu yang relatif lama
  • Memerlukan biaya.

MENGENAL DAN MENERAPKANMETODE DEMONSTRASI (DEMONSTRATION METHODS)

Mengapa demonstrasi perlu dilakukan?
  • Mengonkretkan suatu konsep yang abstrak
  • Melatih cara menggunakan prosedur secara tepat
  • Membuktikan bahwa alat dan prosedur tersebut dapat digunakan.
Karakteristik Metode Demonstrasi:
  • Membelajarkan siswa dalam penguasaan prosedur tertentu
  • Situasi yang digunakan adalah objek yang sebenarnya
  • Selain guru, nara sumber lain juga dapat dijadikan model.
Langkah-langkah metode demonstrasi:
  • Merumuskan tujuan yang akan dicapai siswa setelah proses demonstrasi berakhir
  • Mempersiapkan peralatan yang akan digunakan dalam demonstrasi
  • Mempersiapkan garis besar langkah-langkah demonstrasi yang akan dilakukan
  • Menjelaskan kepada siswa tentang topik yang akan didemonstrasikan
  • Melakukan demonstrasi yang akan dilihat dan ditirukan siswa
  • Penguatan melalui diskusi, tanya jawab, dan latihan
  • Kesimpulan dari demonstrasi yang telah dilakukan.
Kemampuan guru dan siswa yang harus dimiliki agar demonstrasi berjalan dengan baik.
Kemampuan guru:
  • Menguasai materi, langkah-langkah, dan proses pelaksanaan demonstrasi
  • Mampu dan menguasai kelas secara menyeluruh
  • Mampu menggunakan peralatan demonstrasi
  • Mampu melakukan penilaian proses
Kemampuan siswa:
  • Tertarik/termotivasi dengan topik demonstrasi
  • Memahami tujuan demonstrasi
  • Mampu mengamati proses demonstrasi.
Keunggulan metode demonstrasi:
  • Dapat memusatkan perhatian siswa
  • Siswa dapat memahami materi pelajaran sesuai dengan objek yang sebenarnya
  • Mengembangkan rasa ingin tahu siswa
  • Dapat melakukan pekerjaan berdasarkan proses yang sistematis
  • Masalah atau pertanyaan pada diri siswa dapat terjawab melalui pengamatan langsung saat proses demonstrasi dilaksanakan.
Kelemahan metode demonstrasi:
  • Kurang sesuai untuk jumlah siswa yang terlalu banyak
  • Hanya menimbulkan cara berfikir konkret
  • Tidak semua hal dapat didemonstrasikan di dalam kelas
  • Terkadang terjadi, proses yang didemonstrasikan di dalam kelas berlainan dengan situasi yang sebenarnya di luar kelas
  • Memerlukan waktu yang relatif lama
  • Memerlukan biaya.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

Menerapkan METODE PERCOBAAN/EKSPERIMEN (EXPERIMENTAL METHODS)

MENGENAL DAN MENJALANKAN 

METODE PERCOBAAN/EKSPERIMEN 

(EXPERIMENTAL METHODS)

Menurut KBBI eksperimen adalah: percobaan yang bersistem dan berencana (untuk membuktikan kebenaran suatu teori dsb). Metode eksperimen adalah metode pemberian kesempatan kepada anak didik perorangan atau kelompok, untuk dilatih melakukan suatu proses atau percobaan (Syaiful Bahri Djamarah, 2000). Menurut Roestiyah (2001:80),metode eksperimen adalah suatu cara mengajar, di mana siswa melakukan suatu percobaan tentang sesuatu hal, mengamati prosesnya serta menuliskan hasil percobaannya, kemudian hasil pengamatan itu disampaikan ke kelas dan dievaluasi oleh guru.
Dari defenisi di atas dapat disimpulkan bahwa metode eksperimen merupakan metode pembelajaran yang dalam pembahasan dan penyajian materinya dilakukan melaluipercobaan. Melalui metode ini guru atau siswa mencoba mengerjakan sesuatu serta mengamati proses dan hasil proses itu dengan menggunakan alat-alat praktikum agar siswa mendapat kesempatan untuk mengalami sendiri atau melakukan sendiri.
Setiap kegiatan eksperimen harus dilakukan secara sistemik dan sistematis dimulai dari perencanaan, persiapan, pelaksanaan, kajian hasil, dan laporan. Metode eksperimen dapat dilakukan secara perorangan atau kelompok di dalam kelas, di luar kelas, atau di laboratorium. Dalam pelaksanaannya, metode eksperimen biasanya digunakan secara bersamaan dengan metode demonstrasi.
Karakteristik metode eksperimen
  • Menuntut adanya peralatan/alat bantu percobaan
  • Mengutamakan aktivitas siswa
  • Guru cenderung lebih banyak sebagai pembimbing dan fasilisator
  • Siswa memperoleh kemampuan sikap ilmiah
Kemampuan yang harus dimiliki guru dan siswa agar metode eksperimen berhasil dengan baik.
Kemampuan guru:
  • Mampu mengelola kelas dengan baik
  • Mampu menciptakan kondisi pembelajaran eksperimen secara efektif
  • Mampu membimbing siswa mulai dari perencanaan hingga laporan
  • Menguasai konsep yang dieksperimenkan
  • Mampu memberikan penilaian proses.
Kemampuan siswa:
  • Memiliki perhatian, minat belajar , dan motivasi
  • Mampu melakukan eksperimen
  • Memiliki sikap tekun dan ketelitian yang tinggi
  • Mampu membuat laporan eksperimen
Keunggulan metode eksperimen:
  • Mendorong rasa keingintahuan siswa
  • Siswa terbiasa bekerja secara mandiri atau kelompok
  • Siswa lebih percaya atas kebenaran atau kesimpulan berdasarkan percobaannya
  • Membina siswa untuk membuat terobosan-terobosan dengan penemuan baru
  • Melatih siswa bekerja ilmiah.
Kelemahan metode eksperimen:
  • Lebih sesuai untuk mata pelajaran sains
  • Memerlukan peralatan/bahan dan biaya
  • Menuntut ketelitian, keuletan dan ketabahan
  • Setiap percobaan tidak selalu memberikan hasil yang diharapkan
  • Memerlukan waktu yang relatif lama
  • Hanya sedikit sekolah yang memiliki fasilitas eksperimen
  • Banyak guru dan siswa yang belum terbiasa dengan metode ini
Sumber:
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI Daring) dapat diakses di: http://pusatbahasa.kemdiknas.go.id/kbbi/
Dari berbagai sumber pilihan

MENGENAL DAN MENJALANKAN 

METODE PERCOBAAN/EKSPERIMEN 

(EXPERIMENTAL METHODS)

Menurut KBBI eksperimen adalah: percobaan yang bersistem dan berencana (untuk membuktikan kebenaran suatu teori dsb). Metode eksperimen adalah metode pemberian kesempatan kepada anak didik perorangan atau kelompok, untuk dilatih melakukan suatu proses atau percobaan (Syaiful Bahri Djamarah, 2000). Menurut Roestiyah (2001:80),metode eksperimen adalah suatu cara mengajar, di mana siswa melakukan suatu percobaan tentang sesuatu hal, mengamati prosesnya serta menuliskan hasil percobaannya, kemudian hasil pengamatan itu disampaikan ke kelas dan dievaluasi oleh guru.
Dari defenisi di atas dapat disimpulkan bahwa metode eksperimen merupakan metode pembelajaran yang dalam pembahasan dan penyajian materinya dilakukan melaluipercobaan. Melalui metode ini guru atau siswa mencoba mengerjakan sesuatu serta mengamati proses dan hasil proses itu dengan menggunakan alat-alat praktikum agar siswa mendapat kesempatan untuk mengalami sendiri atau melakukan sendiri.
Setiap kegiatan eksperimen harus dilakukan secara sistemik dan sistematis dimulai dari perencanaan, persiapan, pelaksanaan, kajian hasil, dan laporan. Metode eksperimen dapat dilakukan secara perorangan atau kelompok di dalam kelas, di luar kelas, atau di laboratorium. Dalam pelaksanaannya, metode eksperimen biasanya digunakan secara bersamaan dengan metode demonstrasi.
Karakteristik metode eksperimen
  • Menuntut adanya peralatan/alat bantu percobaan
  • Mengutamakan aktivitas siswa
  • Guru cenderung lebih banyak sebagai pembimbing dan fasilisator
  • Siswa memperoleh kemampuan sikap ilmiah
Kemampuan yang harus dimiliki guru dan siswa agar metode eksperimen berhasil dengan baik.
Kemampuan guru:
  • Mampu mengelola kelas dengan baik
  • Mampu menciptakan kondisi pembelajaran eksperimen secara efektif
  • Mampu membimbing siswa mulai dari perencanaan hingga laporan
  • Menguasai konsep yang dieksperimenkan
  • Mampu memberikan penilaian proses.
Kemampuan siswa:
  • Memiliki perhatian, minat belajar , dan motivasi
  • Mampu melakukan eksperimen
  • Memiliki sikap tekun dan ketelitian yang tinggi
  • Mampu membuat laporan eksperimen
Keunggulan metode eksperimen:
  • Mendorong rasa keingintahuan siswa
  • Siswa terbiasa bekerja secara mandiri atau kelompok
  • Siswa lebih percaya atas kebenaran atau kesimpulan berdasarkan percobaannya
  • Membina siswa untuk membuat terobosan-terobosan dengan penemuan baru
  • Melatih siswa bekerja ilmiah.
Kelemahan metode eksperimen:
  • Lebih sesuai untuk mata pelajaran sains
  • Memerlukan peralatan/bahan dan biaya
  • Menuntut ketelitian, keuletan dan ketabahan
  • Setiap percobaan tidak selalu memberikan hasil yang diharapkan
  • Memerlukan waktu yang relatif lama
  • Hanya sedikit sekolah yang memiliki fasilitas eksperimen
  • Banyak guru dan siswa yang belum terbiasa dengan metode ini
Sumber:
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI Daring) dapat diakses di: http://pusatbahasa.kemdiknas.go.id/kbbi/
Dari berbagai sumber pilihan
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

Mengoprasikan METODE KARYAWISATA (FIELD TRIP)

MENGENAL DAN MENJALANKAN

METODE KARYAWISATA (FIELD TRIP)

Karyawisata adalah kunjungan ke suatu tempat atau objek dalam rangka memperluas pengetahuan dalam hubungan dengan pekerjaan seseorang atau sekelompok orang. Metode karyawisata hampir sama dengan pembelajaran outdoor yaitu aktivitas pembelajaran sama-sama dilaksanakan di luar kelas. Perbedaannya adalah karayawisata biasanya bukan sebatas mengajak siswa keluar kelas, tetapi lebih jauh dari kelas atau sekolah dalam rangka mengunjungi tempat-tempat yang ada hubungannya dengan materi pelajaran. Sedangkan pembelajaran outdoor sifatnya lebih sederhana dan biasanya lokasi kunjungan masih di sekitar sekolah.
Dalam pelaksanaannya, metode karyawisata lebih disukai siswa. Namun yang sering terjadi di lapangan, siswa belum memiliki panduan belajar yang cukup sehingga hasil dari kegiatan tersebut kurang dirasakan manfaatnya. Disinilah perlunya peran guru untuk mempersiapkan perencanaan yang baik agar hasil yang dicapai benar-benar menjadi pengalaman siswa yang dapat meningkatkan hasil belajarnya.
Langkah-langkah metode karya wisata:
  1. Menetapkan kompetensi yang akan dicapai siswa
  2. Merencanakan tujuan
  3. Merumuskan kegiatan yang akan dilakukan
  4. Melaksanakan kegiatan
  5. Menilai kegiatan
  6. Melaporkan hasil kegiatan
Beberapa kemampuan yang harus dimiliki guru dan siswa untuk mengoptimalkan metode karyawisata,
1. Kemampuan  yang harus dimiliki guru yaitu:
  • Menentukan tempat atau objek wisata yang sesuai dengan tujuan pembelajaran
  • Merencanakan dan mempersiapkan panduan siswa dalam melaksanakan karyawisata
  • Mempersiapkan peralatan dan bahan yang diperlukan
  • Membimbing dan mengontrol aktivitas siswa saat berkaryawisata
  • Menilai hasil kegiatan
2. Kemampuan yang harus dimiliki siswa:
  • Memahami dan melaksanakan panduan siswa yang diberikan guru
  • Belajar secara mandiri atau berkelompok
  • Menggunakan peralatan dan bahan yang diperlukan
  • Menyusun laporan hasil karyawisata
Kelebihan metode karyawisata:
  1. Materi pelajaran lebih relevan dengan kenyataan
  2. Mendekatkan siswa dengan alam
  3. Tumbuhnya minat, rasa senang, kreativitas, dan motivasi belajar
  4. Memberikan pengalaman nyata, konkret, dan praktis kepada siswa
  5. Penerapan pembelajaran modern
Kelemahan metode karyawisata:
  1. Memerlukan alokasi waktu yang banyak
  2. Memerlukan bimbingan dan pengawasan yang ketat terhadap kreativitas siswa
  3. Memerlukan biaya yang mahal
  4. Kerap terjadi lebih banyak unsur rekreasi ketimbang studi
Sumber: Anitah, Sri. (2007). Model-model Belajar dan Rumpun Model Mengajar. Jakarta: Depdiknas.

MENGENAL DAN MENJALANKAN

METODE KARYAWISATA (FIELD TRIP)

Karyawisata adalah kunjungan ke suatu tempat atau objek dalam rangka memperluas pengetahuan dalam hubungan dengan pekerjaan seseorang atau sekelompok orang. Metode karyawisata hampir sama dengan pembelajaran outdoor yaitu aktivitas pembelajaran sama-sama dilaksanakan di luar kelas. Perbedaannya adalah karayawisata biasanya bukan sebatas mengajak siswa keluar kelas, tetapi lebih jauh dari kelas atau sekolah dalam rangka mengunjungi tempat-tempat yang ada hubungannya dengan materi pelajaran. Sedangkan pembelajaran outdoor sifatnya lebih sederhana dan biasanya lokasi kunjungan masih di sekitar sekolah.
Dalam pelaksanaannya, metode karyawisata lebih disukai siswa. Namun yang sering terjadi di lapangan, siswa belum memiliki panduan belajar yang cukup sehingga hasil dari kegiatan tersebut kurang dirasakan manfaatnya. Disinilah perlunya peran guru untuk mempersiapkan perencanaan yang baik agar hasil yang dicapai benar-benar menjadi pengalaman siswa yang dapat meningkatkan hasil belajarnya.
Langkah-langkah metode karya wisata:
  1. Menetapkan kompetensi yang akan dicapai siswa
  2. Merencanakan tujuan
  3. Merumuskan kegiatan yang akan dilakukan
  4. Melaksanakan kegiatan
  5. Menilai kegiatan
  6. Melaporkan hasil kegiatan
Beberapa kemampuan yang harus dimiliki guru dan siswa untuk mengoptimalkan metode karyawisata,
1. Kemampuan  yang harus dimiliki guru yaitu:
  • Menentukan tempat atau objek wisata yang sesuai dengan tujuan pembelajaran
  • Merencanakan dan mempersiapkan panduan siswa dalam melaksanakan karyawisata
  • Mempersiapkan peralatan dan bahan yang diperlukan
  • Membimbing dan mengontrol aktivitas siswa saat berkaryawisata
  • Menilai hasil kegiatan
2. Kemampuan yang harus dimiliki siswa:
  • Memahami dan melaksanakan panduan siswa yang diberikan guru
  • Belajar secara mandiri atau berkelompok
  • Menggunakan peralatan dan bahan yang diperlukan
  • Menyusun laporan hasil karyawisata
Kelebihan metode karyawisata:
  1. Materi pelajaran lebih relevan dengan kenyataan
  2. Mendekatkan siswa dengan alam
  3. Tumbuhnya minat, rasa senang, kreativitas, dan motivasi belajar
  4. Memberikan pengalaman nyata, konkret, dan praktis kepada siswa
  5. Penerapan pembelajaran modern
Kelemahan metode karyawisata:
  1. Memerlukan alokasi waktu yang banyak
  2. Memerlukan bimbingan dan pengawasan yang ketat terhadap kreativitas siswa
  3. Memerlukan biaya yang mahal
  4. Kerap terjadi lebih banyak unsur rekreasi ketimbang studi
Sumber: Anitah, Sri. (2007). Model-model Belajar dan Rumpun Model Mengajar. Jakarta: Depdiknas.
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

Menerapkan METODE MENGAJAR SESAMA TEMAN (PEER TEACHING METHODS)

MENGENAL DAN MENERAPKAN
METODE MENGAJAR SESAMA TEMAN (PEER TEACHING METHODS)

Ada saatnya seorang guru mengalami kebuntuan dalam memilih metode yang efektif untuk diterapkan pada proses pembelajaran dalam rangka mencapai kompetensi yang diharapkan dikuasai oleh siswa. Walaupun metode pembelajaran beragam, menentukan metode mana yang paling sesuai untuk diterapkan bukanlah pekerjaan yang gampang. Disinilah sebenarnya seorang guru dituntut keprofesionalannya sebagai pendidik, pembimbing, dan pengajar.
Pada umumnya siswa akan sangat tertarik dengan hal-hal yang baru. Atas dasar inilah seorang guru harus jeli dalam memilih metode pembelajaran agar siswa tetap termotivasi dan antusias untuk belajar. Metode mengajar sesama teman (peer teaching methods) bisa dijadikan pilihan untuk memenuhi hal itu. Hanya saja jangan terlalu sering diterapkan karena kesannya, pembelajaran akan monoton dan akhirnya membosankan siswa.
Metode peer teaching adalah teknik menyampaikan materi ajar melalui rekan atau bantuan teman sendiri. Mulai dari pembahasan materi sampai penilaian juga dilakukan dari dan oleh siswa dalam kelompok itu sendiri (self-assessment dan peer assessment). Sedangkan untuk nilai akhirnya adalah penggabungan antara penilaian oleh guru dan teman sebaya. Dari defenisi tersebut, guru harus mampu memodifikasi metode peer teaching agar sesuai diterapkan untuk siswa SD (kelas tinggi) terutama pada bagian assessment-nya.
Pembelajaran kooperatif dengan teknik ini bisa dilaksanakan bersamaan dengan metode diskusi. Prasyarat untuk melaksanakan pembelajaran dengan metode peer teaching, di dalam kelas harus terdapat beberapa siswa yang cepat (pintar) dan semua siswa cenderung memiliki pengetahuan dasar yang relevan.
Langkah-langkah metode mengajar sesama teman (peer teaching methods)
  1. Guru menjelaskan topik, tujuan pembelajaran, dan langkah/kegiatan yang akan dilalui siswa
  2. Membagi siswa menjadi beberapa kelompok yang terdiri dari 4-6 siswa secara merata (tiap kelompok terdapat siswa yang pintar)
  3. Di dalam kelompoknya siswa belajar dari dan dengan sesama teman lain dengan cara yang saling menguntungkan serta berbagi pengetahuan, ide, dan pengalaman masing-masing.
  4. Setiap anggota kelompok dituntut memberikan tanggapan serta pendapat mereka sendiri yang nantinya akan disatukan dalam satu kesimpulan.
  5. Setiap kelompok merumuskan hasil diskusinya dalam satu kesimpulan atas dasar kesepakatan bersama.
  6. Beberapa menit kemudian (sekitar 20 menit) salah satu anggota masing-masing kelompok secara bergiliran mengajarkan hasil temuannya di hadapan kelompok lain.
  7. Setiap kelompok diminta memberikan tanggapan (kritik, saran, pendapat, pertanyaan, komentar, dll)
  8. Perbedaan pendapat didiskusikan sampai permasalahan terpecahkan
  9. Setiap masalah baru yang muncul dicatat oleh guru dan diberikan solusinya
  10. Guru memberi kesimpulan permasalahan dan pemecahannya, sehingga pemahaman setiap siswa seragam.
  11. Penilaian dilakukan oleh guru saat proses pembelajaran sedang berlangsung (terutama pada langkah 3)
Keunggulan metode peer teaching
  • Meningkatkan motivasi belajar siswa
  • Meningkatkan kualitas dan proses pembelajaran
  • Meningkatkan interaktif sosial siswa dalam pembelajaran
  • Mendorong siswa ke arah berpikir tingkat tinggi
  • Mengembangkan keterampilan bekerja dalam kelompok
  • Meningkatan rasa tanggung jawab untuk belajar sendiri
  • Membangun semangat bekerja sama
  • Melatih keterampilan berkomunikasi
  • Meningkatkan hasil belajar
Kelemahan metode peer teaching
  • Memerlukan waktu yang relatif lama
  • Jika siswa tidak memiliki dasar pengetahuan yang relevan maka metode ini menjadi tidak efektif
  • Kemungkinan didominasi oleh siswa yang suka berbicara, pintar, atau yang ingin menonjolkan diri
  • Tidak semua guru benar-benar memahami cara masing-masing siswa bekerja di kelompok
  • Perlu dimodifikasi agar sesuai diterapkan pada siswa SD (teknik ini biasanya diterapkan di PT)
  • Memerlukan perhatian guru yang ekstra ketat
Referensi:
-Hasil penelitian Lyn Longaretti, dkk (The University of Melbourne)
-Centre for Development of Teaching and Learning (CDTL). National University of Singapore, di: http://www.cdtl.nus.edu.sg/

MENGENAL DAN MENERAPKAN
METODE MENGAJAR SESAMA TEMAN (PEER TEACHING METHODS)

Ada saatnya seorang guru mengalami kebuntuan dalam memilih metode yang efektif untuk diterapkan pada proses pembelajaran dalam rangka mencapai kompetensi yang diharapkan dikuasai oleh siswa. Walaupun metode pembelajaran beragam, menentukan metode mana yang paling sesuai untuk diterapkan bukanlah pekerjaan yang gampang. Disinilah sebenarnya seorang guru dituntut keprofesionalannya sebagai pendidik, pembimbing, dan pengajar.
Pada umumnya siswa akan sangat tertarik dengan hal-hal yang baru. Atas dasar inilah seorang guru harus jeli dalam memilih metode pembelajaran agar siswa tetap termotivasi dan antusias untuk belajar. Metode mengajar sesama teman (peer teaching methods) bisa dijadikan pilihan untuk memenuhi hal itu. Hanya saja jangan terlalu sering diterapkan karena kesannya, pembelajaran akan monoton dan akhirnya membosankan siswa.
Metode peer teaching adalah teknik menyampaikan materi ajar melalui rekan atau bantuan teman sendiri. Mulai dari pembahasan materi sampai penilaian juga dilakukan dari dan oleh siswa dalam kelompok itu sendiri (self-assessment dan peer assessment). Sedangkan untuk nilai akhirnya adalah penggabungan antara penilaian oleh guru dan teman sebaya. Dari defenisi tersebut, guru harus mampu memodifikasi metode peer teaching agar sesuai diterapkan untuk siswa SD (kelas tinggi) terutama pada bagian assessment-nya.
Pembelajaran kooperatif dengan teknik ini bisa dilaksanakan bersamaan dengan metode diskusi. Prasyarat untuk melaksanakan pembelajaran dengan metode peer teaching, di dalam kelas harus terdapat beberapa siswa yang cepat (pintar) dan semua siswa cenderung memiliki pengetahuan dasar yang relevan.
Langkah-langkah metode mengajar sesama teman (peer teaching methods)
  1. Guru menjelaskan topik, tujuan pembelajaran, dan langkah/kegiatan yang akan dilalui siswa
  2. Membagi siswa menjadi beberapa kelompok yang terdiri dari 4-6 siswa secara merata (tiap kelompok terdapat siswa yang pintar)
  3. Di dalam kelompoknya siswa belajar dari dan dengan sesama teman lain dengan cara yang saling menguntungkan serta berbagi pengetahuan, ide, dan pengalaman masing-masing.
  4. Setiap anggota kelompok dituntut memberikan tanggapan serta pendapat mereka sendiri yang nantinya akan disatukan dalam satu kesimpulan.
  5. Setiap kelompok merumuskan hasil diskusinya dalam satu kesimpulan atas dasar kesepakatan bersama.
  6. Beberapa menit kemudian (sekitar 20 menit) salah satu anggota masing-masing kelompok secara bergiliran mengajarkan hasil temuannya di hadapan kelompok lain.
  7. Setiap kelompok diminta memberikan tanggapan (kritik, saran, pendapat, pertanyaan, komentar, dll)
  8. Perbedaan pendapat didiskusikan sampai permasalahan terpecahkan
  9. Setiap masalah baru yang muncul dicatat oleh guru dan diberikan solusinya
  10. Guru memberi kesimpulan permasalahan dan pemecahannya, sehingga pemahaman setiap siswa seragam.
  11. Penilaian dilakukan oleh guru saat proses pembelajaran sedang berlangsung (terutama pada langkah 3)
Keunggulan metode peer teaching
  • Meningkatkan motivasi belajar siswa
  • Meningkatkan kualitas dan proses pembelajaran
  • Meningkatkan interaktif sosial siswa dalam pembelajaran
  • Mendorong siswa ke arah berpikir tingkat tinggi
  • Mengembangkan keterampilan bekerja dalam kelompok
  • Meningkatan rasa tanggung jawab untuk belajar sendiri
  • Membangun semangat bekerja sama
  • Melatih keterampilan berkomunikasi
  • Meningkatkan hasil belajar
Kelemahan metode peer teaching
  • Memerlukan waktu yang relatif lama
  • Jika siswa tidak memiliki dasar pengetahuan yang relevan maka metode ini menjadi tidak efektif
  • Kemungkinan didominasi oleh siswa yang suka berbicara, pintar, atau yang ingin menonjolkan diri
  • Tidak semua guru benar-benar memahami cara masing-masing siswa bekerja di kelompok
  • Perlu dimodifikasi agar sesuai diterapkan pada siswa SD (teknik ini biasanya diterapkan di PT)
  • Memerlukan perhatian guru yang ekstra ketat
Referensi:
-Hasil penelitian Lyn Longaretti, dkk (The University of Melbourne)
-Centre for Development of Teaching and Learning (CDTL). National University of Singapore, di: http://www.cdtl.nus.edu.sg/
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

Menerapkan METODE BOLA SALJU (SNOW BALLING)

MENGENAL DAN MENJALANKAN

METODE BOLA SALJU (SNOW BALLING)

Terus terang untuk beberapa alasan, teknik bola salju (snow balling) ini jarang sekali Saya praktekkan. Apa yang Saya tuliskan berikut ini merupakan intisari dari metode bola salju (snow balling) yang didapatkan dari berbagai sumber, diantaranya dari tutor LPMP Medan dan dari Bapak Sunarto, S.Pd., M.Pd (Pasilitator Idola-Yogyakarta).
Sebenarnya, teknik mengajar dengan “bola salju (snow balling)” kurang tepat dikatakan sebagai metode. Lebih tepat jika dikategorikan sebagai strategi karena di dalam pelaksanaan bola salju terdapat metode tugas, tanya jawab, dan metode diskusi. Mungkin karena sudah terlanjur popular dengan sebutan metode, maka istilah strategi untuk bola salju (snow balling) jadi kurang pas.
Metode ini dinamakan metode bola salju (snow balling) karena dalam pelaksanaannya siswa melakukan tugas individu kemudian diteruskan dengan berpasangan. Pasangan itu menyelesaikan tugas secara bersama. Setelah itu pasangan yang terdiri dari dua siswa tadi mencari pasangan yang lain sehingga semakin lama anggota kelompok semakin banyak dan besar seperti bola salju yang menggelinding.
Metode pembelajaran dengan teknik bola salju (snow balling) ini sangat efektif untuk meningkatkan keaktifan belajar siswa. Kegiatan pembelajaran dengan metode ini bertujuan untuk mendapatkan jawaban dari hasil kerja siswa secara bertahap dan bertingkat. Dimulai dari kelompok kecil yang terdiri dari dua siswa kemudian berangsur-angsur menjadi kelompok yang lebih besar sehingga pada akhirnya akan memunculkan dua atau tiga jawaban yang telah disepakati oleh siswa secara kelompok.
Dalam pelaksanaannya metode bola salju (snow balling) bisa diawali dengan penjelasan jika yang akan dibahas merupakan materi baru  kemudian diberikan problem solving untuk di bahas oleh siswa. Dan tidak perlu diawali dengan penjelasan materi, jika masalah yang dipelajari bukanlah materi baru.
Langkah-langkah metode bola salju (snow balling):
  1. Menginformasikan topik materi yang akan dibahas.
  2. Meminta siswa untuk menjawab permasalahan secara berpasangan.
  3. Setelah siswa yang bekerja berpasangan tadi mendapatkan jawaban, pasangan tadi digabung dengan pasangan lain sehingga terbentuk kelompok baru yang beranggotakan 4 orang.
  4. Kelompok baru ini bersama-sama mengerjakan tugas sebagaimana yang dilakukan kelompok 2 orang. Dalam kegiatan ini mereka bisa membandingkan jawaban kelompok 2 orang dengan kelompok 2 orang lainnya dan jawaban harus disepakati oleh semua anggota kelompok yang baru.
  5. Setelah kelompok 4 orang ini selesai mengerjakan tugas, mereka digabung lagi dengan kelompok 4 orang lainnya. Sekarang setiap kelompok baru beranggotakan 8 orang.
  6. Yang dikerjakan oleh kelompok baru ini sama dengan tugas pada langkah ke-4. Untuk membentuk kelompok yang lebih besar tentunya harus disesuaikan dengan jumlah siswa dan waktu yang tersedia.
  7. Langkah selanjutnya, masing-masing kelompok diminta untuk menyampaikan hasil diskusinya di depan kelas.
  8. Guru membandingkan hasil dari masing-masing kerja kelompok kemudian memberikan tanggapan yang dianggap perlu.
Prasyarat untuk mengoptimalkan pelaksanaan metode bola salju (snow balling) yaitu:
1. Kemampuan guru
  • Mampu membimbing siswa saat berlangungnya pembelajaran
  • Menguasai konsep yang dijadikan permasalahan
  • Mampu mengelola kelas
  • Mampu memberi penilaian secara proses
2. Kondisi dan kemampuan Siswa
  • Mampu bekerja dalam kelompok
  • Mampu melaksanakan tugas (pemecahan masalah)
  • Memiliki minat, perhatian, dan motivasi belajar
  • Memiliki sikap tekun, teliti, dan kerja keras
Keunggulan metode bola salju (snow balling):
  1. Meningkatkan motivasi belajar siswa
  2. Sangat efektif untuk meningkatkan keaktifan siswa
  3. Melatih kerja sama kelompok dalam berdiskusi
  4. Menumbuhkan rasa percaya diri siswa
  5. Praktis bukan pengajaran konvensional
Kelemahan metode bola salju (snow balling):
  1. Memerlukan persiapan yang matang
  2. Tidak sesuai dengan jumlah siswa yang banyak
  3. Memerlukan perhatian yang ektra ketat dari guru
  4. Memerlukan waktu yang relatif lama
  5. Kemungkinan didominasi oleh siswa yang berkemampuan cepat

MENGENAL DAN MENJALANKAN

METODE BOLA SALJU (SNOW BALLING)

Terus terang untuk beberapa alasan, teknik bola salju (snow balling) ini jarang sekali Saya praktekkan. Apa yang Saya tuliskan berikut ini merupakan intisari dari metode bola salju (snow balling) yang didapatkan dari berbagai sumber, diantaranya dari tutor LPMP Medan dan dari Bapak Sunarto, S.Pd., M.Pd (Pasilitator Idola-Yogyakarta).
Sebenarnya, teknik mengajar dengan “bola salju (snow balling)” kurang tepat dikatakan sebagai metode. Lebih tepat jika dikategorikan sebagai strategi karena di dalam pelaksanaan bola salju terdapat metode tugas, tanya jawab, dan metode diskusi. Mungkin karena sudah terlanjur popular dengan sebutan metode, maka istilah strategi untuk bola salju (snow balling) jadi kurang pas.
Metode ini dinamakan metode bola salju (snow balling) karena dalam pelaksanaannya siswa melakukan tugas individu kemudian diteruskan dengan berpasangan. Pasangan itu menyelesaikan tugas secara bersama. Setelah itu pasangan yang terdiri dari dua siswa tadi mencari pasangan yang lain sehingga semakin lama anggota kelompok semakin banyak dan besar seperti bola salju yang menggelinding.
Metode pembelajaran dengan teknik bola salju (snow balling) ini sangat efektif untuk meningkatkan keaktifan belajar siswa. Kegiatan pembelajaran dengan metode ini bertujuan untuk mendapatkan jawaban dari hasil kerja siswa secara bertahap dan bertingkat. Dimulai dari kelompok kecil yang terdiri dari dua siswa kemudian berangsur-angsur menjadi kelompok yang lebih besar sehingga pada akhirnya akan memunculkan dua atau tiga jawaban yang telah disepakati oleh siswa secara kelompok.
Dalam pelaksanaannya metode bola salju (snow balling) bisa diawali dengan penjelasan jika yang akan dibahas merupakan materi baru  kemudian diberikan problem solving untuk di bahas oleh siswa. Dan tidak perlu diawali dengan penjelasan materi, jika masalah yang dipelajari bukanlah materi baru.
Langkah-langkah metode bola salju (snow balling):
  1. Menginformasikan topik materi yang akan dibahas.
  2. Meminta siswa untuk menjawab permasalahan secara berpasangan.
  3. Setelah siswa yang bekerja berpasangan tadi mendapatkan jawaban, pasangan tadi digabung dengan pasangan lain sehingga terbentuk kelompok baru yang beranggotakan 4 orang.
  4. Kelompok baru ini bersama-sama mengerjakan tugas sebagaimana yang dilakukan kelompok 2 orang. Dalam kegiatan ini mereka bisa membandingkan jawaban kelompok 2 orang dengan kelompok 2 orang lainnya dan jawaban harus disepakati oleh semua anggota kelompok yang baru.
  5. Setelah kelompok 4 orang ini selesai mengerjakan tugas, mereka digabung lagi dengan kelompok 4 orang lainnya. Sekarang setiap kelompok baru beranggotakan 8 orang.
  6. Yang dikerjakan oleh kelompok baru ini sama dengan tugas pada langkah ke-4. Untuk membentuk kelompok yang lebih besar tentunya harus disesuaikan dengan jumlah siswa dan waktu yang tersedia.
  7. Langkah selanjutnya, masing-masing kelompok diminta untuk menyampaikan hasil diskusinya di depan kelas.
  8. Guru membandingkan hasil dari masing-masing kerja kelompok kemudian memberikan tanggapan yang dianggap perlu.
Prasyarat untuk mengoptimalkan pelaksanaan metode bola salju (snow balling) yaitu:
1. Kemampuan guru
  • Mampu membimbing siswa saat berlangungnya pembelajaran
  • Menguasai konsep yang dijadikan permasalahan
  • Mampu mengelola kelas
  • Mampu memberi penilaian secara proses
2. Kondisi dan kemampuan Siswa
  • Mampu bekerja dalam kelompok
  • Mampu melaksanakan tugas (pemecahan masalah)
  • Memiliki minat, perhatian, dan motivasi belajar
  • Memiliki sikap tekun, teliti, dan kerja keras
Keunggulan metode bola salju (snow balling):
  1. Meningkatkan motivasi belajar siswa
  2. Sangat efektif untuk meningkatkan keaktifan siswa
  3. Melatih kerja sama kelompok dalam berdiskusi
  4. Menumbuhkan rasa percaya diri siswa
  5. Praktis bukan pengajaran konvensional
Kelemahan metode bola salju (snow balling):
  1. Memerlukan persiapan yang matang
  2. Tidak sesuai dengan jumlah siswa yang banyak
  3. Memerlukan perhatian yang ektra ketat dari guru
  4. Memerlukan waktu yang relatif lama
  5. Kemungkinan didominasi oleh siswa yang berkemampuan cepat
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

Menerapkan METODE BRAINSTORMING (SUMBANG SARAN)

MENGENAL DAN MENERAPKAN 

METODE BRAINSTORMING (SUMBANG SARAN)

Metode  brainstorming adalah  teknik mengajar yang dilaksanakan guru dengan cara melontarkan suatu masalah ke kelas oleh guru, kemudian siswa menjawab, menyatakan pendapat, atau memberi komentar sehingga memungkinkan masalah tersebut berkembang menjadi masalah baru . Secara singkat dapat diartikan sebagai satu cara untuk mendapatkan banyak/berbagai ide dari sekelompok manusia dalam waktu yang singkat (Roestiyah 2001: 73).
Metode yang dipopulerkan oleh Alex F. Osborn dalam bukunya Applied Imagination itu disebut juga dengan metode sumbang saran. Beberapa ahli mengemukakan bahwa metode brainstorming (sumbang saran) merupakan suatu bentuk metode diskusi guna menghimpun ide/gagasan, pendapat, informasi, pengetahuan, pengalaman dari semua peserta.
Perbedaanya dengan diskusi, jika dalam diskusi  gagasan dari seseorang ditanggapi (didukung, dilengkapi, dikurangi, atau tidak disepakati) oleh peserta lain, maka pada penggunaan metode brainstorming (curah pendapat) gagasan yang dikemukakan tidak untuk ditanggapi oleh peserta lain. Teknik ini hanya untuk menghasilkan gagasan yang mencoba mengatasi segala hambatan dan kritik. Kegiatan ini mendorong munculnya banyak gagasan, termasuk gagasan yang nyleneh, liar, dan berani dengan harapan bahwa gagasan tersebut dapat menghasilkan gagasan yang kreatif.
Tujuan dari penggunaan metode brainstorming (curah pendapat) adalah untuk membuat kompilasi (kumpulan) pendapat, informasi, pengalaman semua peserta yang sama atau berbeda. Hasil akhirnya lantas dijadikan peta info, peta pengalaman, atau peta ide (mindmap) buat jadi evaluasi berbarengan. metode ini dipakai buat menguras habis apa yang dipikirkan para siswa di dalam menanggapi permasalahan yang dilontarkan guru di kelas tersebut.
Tugas guru dalam pelaksanaan metode ini:
  1. Memberikan masalah yang mampu merangsang pikiran siswa, sehingga mereka tertarik untuk menanggapinya.
  2. Tidak boleh mengomentari atau mengevaluasi bahwa pendapat yang dikemukakan oleh siswa itu benar/salah.
  3. Guru tidak perlu menyimpulkan permasalahan yang telah ditaggapi siswa.
  4. Guru hanya menampung semua pernyataan pendapat siswa, dan memastikan semua siswa di dalam kelas mendapat giliran.
  5. Memberikan pertanyaan untuk memancing siswa yang kurang aktif menjadi tertarik.
Tugas siswa dalam pelaksanaan metode ini:
  1. Menanggapi masalah dengan mengemukakan pendapat, komentar, mengajukan pertanyaan, atau mengemukakan masalah baru.
  2. Belajar dan melatih merumuskan pendapatnya dengan bahasa dan kalimat yang baik.
  3. Berpartisipasi aktif, dan berani mengemukakan pendapatnya.
Langkah-langkah metode Brainstorming
  1. Pemberian informasi dan motivasi. Pada tahap ini guru menjelaskan masalah yang akan dibahas dan latar belakangnya, kemudian mengajak siswa agar aktif untuk memberikan tanggapannya.
  2. Identifikasi. Siswa diajak memberikan sumbang saran pemikiran sebanyak-banyaknya. Semua saran yang diberikan siswa ditampung, ditulis dan jangan dikritik. Pemimpin kelompok dan peserta dibolehkan mengajukan pertanyaan hanya untuk meminta penjelasan.
  3. Klasifikasi. Mengklasifikasi berdasarkan kriteria yang dibuat dan disepakati oleh kelompok. Klasifikasi bisa jiga berdasarkan struktur/faktor-faktor lain.
  4. Verifikasi. Kelompok secara bersama meninjau kembali sumbang saran yang telah diklasifikasikan. Setiap sumbang saran diuji relevansinya dengan permasalahan yang dibahas. Apabila terdapat kesamaan maka yang diambil adalah salah satunya dan yang tidak relevan dicoret. Namun kepada pemberi sumbang saran bisa dimintai argumentasinya.
  5. Konklusi (Penyepakatan). Guru/pimpinan kelompok beserta peserta lain mencoba menyimpulkan butir-butir alternatif pemecahan masalah yang disetujui. Setelah semua puas, maka diambil kesepakatan terakhir cara pemecahan masalah yang dianggap paling tepat.
Keunggulan dan Kelemahan Metode Brainstorming 
Keutamaan metode brainstorming adalah penggunaan kapasitas otak dalam menjabarkan gagasan atau menyampaikan suatu ide. Dalam proses brainstorming, seseorang akan dituntut untuk mengeluarkan semua gagasan sesuai dengan kapasitas wawasan dan psikologisnya. Sebagai mana metode mengajar lainnya, metode brainstorming juga memiliki kelebihan dan kekurangan/kelemahan.
Roestiyah (2001:74-75), mengemukakan beberapa keunggulan dan kelemahan metode brainstorming sebagai berikut.
Keunggulan metode brainstorming antara lain:
  1. Siswa berfikir untuk menyatakan pendapat.
  2. Melatih siswa berpikir dengan cepat dan tersusun logis.
  3. Merangsang siswa untuk selalu siap berpendapat yang berhubungan dengan masalah yang diberikan oleh guru.
  4. Meningkatkan partisipasi siswa dalam menerima pelajaran.
  5. Siswa yang kurang aktif mendapat bantuan dari temannya yang sudah pandai atau dari guru.
  6. Terjadi persaingan yang sehat.
  7. Anak merasa bebas dan gembira.
  8. Suasana demokratis dan disiplin dapat ditumbuhkan.
  9. Meningkatkan motivasi belajar.
Sedangkan hal-hal yang perlu diantisipsi dalam penggunaan metode brainstorming (kelemahannya) yaitu:
  1. Memerlukan waktu yang relatif lama.
  2. Lebih didominasi oleh siswa yang pandai.
  3. Siswa yang kurang pandai (lambat)  selalu ketinggalan.
  4. Hanya menampung tanggapan siswa saja
  5. Guru tidak pernah merumuskan suatu kesimpulan.
  6. Siswa tidak segera tahu apakah pendapat yang dikemkakannya itu betul atau salah.
  7. Tidak menjamin terpecahkannya suatu masalah.
  8. Masalah bisa melebar ke arah yang kurang diharapkan.
Kelemahan di atas bisa diatasi jika guru atau pemimpin kelompok bisa membaca situasi dan menguasai kelas dengan baik untuk mencari solusi. Guru harus bisa menjadi penengah dan mengatur situasi dalam kelas sebaik mungkin dengan cara benar-benar menguasai materi yang akan disampaikan dan merencanakan kegiatan belajar dengan baik.

MENGENAL DAN MENERAPKAN 

METODE BRAINSTORMING (SUMBANG SARAN)

Metode  brainstorming adalah  teknik mengajar yang dilaksanakan guru dengan cara melontarkan suatu masalah ke kelas oleh guru, kemudian siswa menjawab, menyatakan pendapat, atau memberi komentar sehingga memungkinkan masalah tersebut berkembang menjadi masalah baru . Secara singkat dapat diartikan sebagai satu cara untuk mendapatkan banyak/berbagai ide dari sekelompok manusia dalam waktu yang singkat (Roestiyah 2001: 73).
Metode yang dipopulerkan oleh Alex F. Osborn dalam bukunya Applied Imagination itu disebut juga dengan metode sumbang saran. Beberapa ahli mengemukakan bahwa metode brainstorming (sumbang saran) merupakan suatu bentuk metode diskusi guna menghimpun ide/gagasan, pendapat, informasi, pengetahuan, pengalaman dari semua peserta.
Perbedaanya dengan diskusi, jika dalam diskusi  gagasan dari seseorang ditanggapi (didukung, dilengkapi, dikurangi, atau tidak disepakati) oleh peserta lain, maka pada penggunaan metode brainstorming (curah pendapat) gagasan yang dikemukakan tidak untuk ditanggapi oleh peserta lain. Teknik ini hanya untuk menghasilkan gagasan yang mencoba mengatasi segala hambatan dan kritik. Kegiatan ini mendorong munculnya banyak gagasan, termasuk gagasan yang nyleneh, liar, dan berani dengan harapan bahwa gagasan tersebut dapat menghasilkan gagasan yang kreatif.
Tujuan dari penggunaan metode brainstorming (curah pendapat) adalah untuk membuat kompilasi (kumpulan) pendapat, informasi, pengalaman semua peserta yang sama atau berbeda. Hasil akhirnya lantas dijadikan peta info, peta pengalaman, atau peta ide (mindmap) buat jadi evaluasi berbarengan. metode ini dipakai buat menguras habis apa yang dipikirkan para siswa di dalam menanggapi permasalahan yang dilontarkan guru di kelas tersebut.
Tugas guru dalam pelaksanaan metode ini:
  1. Memberikan masalah yang mampu merangsang pikiran siswa, sehingga mereka tertarik untuk menanggapinya.
  2. Tidak boleh mengomentari atau mengevaluasi bahwa pendapat yang dikemukakan oleh siswa itu benar/salah.
  3. Guru tidak perlu menyimpulkan permasalahan yang telah ditaggapi siswa.
  4. Guru hanya menampung semua pernyataan pendapat siswa, dan memastikan semua siswa di dalam kelas mendapat giliran.
  5. Memberikan pertanyaan untuk memancing siswa yang kurang aktif menjadi tertarik.
Tugas siswa dalam pelaksanaan metode ini:
  1. Menanggapi masalah dengan mengemukakan pendapat, komentar, mengajukan pertanyaan, atau mengemukakan masalah baru.
  2. Belajar dan melatih merumuskan pendapatnya dengan bahasa dan kalimat yang baik.
  3. Berpartisipasi aktif, dan berani mengemukakan pendapatnya.
Langkah-langkah metode Brainstorming
  1. Pemberian informasi dan motivasi. Pada tahap ini guru menjelaskan masalah yang akan dibahas dan latar belakangnya, kemudian mengajak siswa agar aktif untuk memberikan tanggapannya.
  2. Identifikasi. Siswa diajak memberikan sumbang saran pemikiran sebanyak-banyaknya. Semua saran yang diberikan siswa ditampung, ditulis dan jangan dikritik. Pemimpin kelompok dan peserta dibolehkan mengajukan pertanyaan hanya untuk meminta penjelasan.
  3. Klasifikasi. Mengklasifikasi berdasarkan kriteria yang dibuat dan disepakati oleh kelompok. Klasifikasi bisa jiga berdasarkan struktur/faktor-faktor lain.
  4. Verifikasi. Kelompok secara bersama meninjau kembali sumbang saran yang telah diklasifikasikan. Setiap sumbang saran diuji relevansinya dengan permasalahan yang dibahas. Apabila terdapat kesamaan maka yang diambil adalah salah satunya dan yang tidak relevan dicoret. Namun kepada pemberi sumbang saran bisa dimintai argumentasinya.
  5. Konklusi (Penyepakatan). Guru/pimpinan kelompok beserta peserta lain mencoba menyimpulkan butir-butir alternatif pemecahan masalah yang disetujui. Setelah semua puas, maka diambil kesepakatan terakhir cara pemecahan masalah yang dianggap paling tepat.
Keunggulan dan Kelemahan Metode Brainstorming 
Keutamaan metode brainstorming adalah penggunaan kapasitas otak dalam menjabarkan gagasan atau menyampaikan suatu ide. Dalam proses brainstorming, seseorang akan dituntut untuk mengeluarkan semua gagasan sesuai dengan kapasitas wawasan dan psikologisnya. Sebagai mana metode mengajar lainnya, metode brainstorming juga memiliki kelebihan dan kekurangan/kelemahan.
Roestiyah (2001:74-75), mengemukakan beberapa keunggulan dan kelemahan metode brainstorming sebagai berikut.
Keunggulan metode brainstorming antara lain:
  1. Siswa berfikir untuk menyatakan pendapat.
  2. Melatih siswa berpikir dengan cepat dan tersusun logis.
  3. Merangsang siswa untuk selalu siap berpendapat yang berhubungan dengan masalah yang diberikan oleh guru.
  4. Meningkatkan partisipasi siswa dalam menerima pelajaran.
  5. Siswa yang kurang aktif mendapat bantuan dari temannya yang sudah pandai atau dari guru.
  6. Terjadi persaingan yang sehat.
  7. Anak merasa bebas dan gembira.
  8. Suasana demokratis dan disiplin dapat ditumbuhkan.
  9. Meningkatkan motivasi belajar.
Sedangkan hal-hal yang perlu diantisipsi dalam penggunaan metode brainstorming (kelemahannya) yaitu:
  1. Memerlukan waktu yang relatif lama.
  2. Lebih didominasi oleh siswa yang pandai.
  3. Siswa yang kurang pandai (lambat)  selalu ketinggalan.
  4. Hanya menampung tanggapan siswa saja
  5. Guru tidak pernah merumuskan suatu kesimpulan.
  6. Siswa tidak segera tahu apakah pendapat yang dikemkakannya itu betul atau salah.
  7. Tidak menjamin terpecahkannya suatu masalah.
  8. Masalah bisa melebar ke arah yang kurang diharapkan.
Kelemahan di atas bisa diatasi jika guru atau pemimpin kelompok bisa membaca situasi dan menguasai kelas dengan baik untuk mencari solusi. Guru harus bisa menjadi penengah dan mengatur situasi dalam kelas sebaik mungkin dengan cara benar-benar menguasai materi yang akan disampaikan dan merencanakan kegiatan belajar dengan baik.
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More
 
Kerangka Template by creating website » Template modify by panjz online